Penyakit Kwashiorkor Pada Anak Akibat Kekurangan Protein

Penyakit Kwashiorkor Pada Anak

Samagz.com, Busung lapar atau penyakit kwashiorkor pada anak terjadi akibat kekurangan protein dalam tubuh. Kekurangan asupun protein maupun kehilangan protein karena infeksi kronis. Pada negara berkembang banyak terjadi anak-anak dengan kondisi kwashiorkor akibat gizi buruk berkepanjangan.

Kwahisiorkor sering terjadi pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini si kecil memasuki tahap pertumbuhan dengan kebutuhan protein yang tinggi. Faktor kemiskinan membuat anak-anak kekurangan asupun nutrisi cukup sehingga mengakibatkan gizi buruk.

Selain faktor kemiskinan, faktor lain yang dapat meningkatkan gizi buruk ialah sanitasi lingkungan rendah dan tingkat pendidikan orang tua. Pemerintah serta dinas kesehatan menjadi peran penting dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya gizi buruk pada anak. Program promosi kesehatan dengan pelaksanaan secara maksimal dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang nutrisi anak dan kebersihan lingkungan.

Penyebab Penyakit Kwashiorkor pada Anak

Kwashiorkor adalah penyakit yang terjadi karena kekurangan protein dalam tubuh. Kekurangan protein terjadi akibat kurang asupan protein dalam makanan, gangguan asupan penyerapan protein, kehilangan protein secara terus menerus, infeksi kronis, serta pendarahan.

Sumber Makanan Yang Mengandung Protein

Protein tergolong dalam nutrisi makro, yang mana kebutuhannya sendiri bagi anak sekitar 3 gram per kg berat badan. Seorang ibu pintar wajib mengetahui sumber makanan yang mengandung banyak protein. Memilih makanan yang tepat serta pengolahan yang bersih dan baik dapat mempertahankan nilai nutrisi itu sendiri.

Protein berdasarkan sumbernya terbagi menjadi dua yaitu protein hewani dan protein nabati. Adapun sumber protein hewani terdapat pada daging ruminansia, daging unggas, telur, susu, ikan, keju, dan yogurt. Sedangkan protein nabati terdapat pada kacang-kacangan, tempe, tahu, bayam, brokoli, beras merah, kuaci, serta susu kedelai.

Gangguan Proses Masuk Protein Dalam Tubuh Pada Anak

Terdapat banyak faktor atas terganggunya proses pemasukan protein ke dalam tubuh. Faktor tersebut seperti anak mengalami gangguan makan (anorexia, bullimia), trismus (kaku rawang), 3L (lemah, letih, lesu), gangguan mental (autis, retardasi mental, hiperaktif) serta hilang kesadaran. Solusi supaya sumber makanan dapat masuk ke dalam tubuh ialah memperbaiki penyebab faktor tersebut, bila tidak berhasil solusi terbaik ialah mengunjungi pusat fasilitas kesehatan.

Pada fasilitas kesehatan sumber nutrisi melalui 3 akses yaitu oral, enteral dan parenteral. Cara tersebut sesuai dengan status kesehatan si kecil. Akses oral apabila si kecil mampu mengunyah dan memasukan makanan secara spontan. Bila si kecil sulit membuka mulut atau rahang maka dapat menggunakan cara enteral, yang mana memasukan selang kedalam lambung (gastric tube). Sedangkan kondisi anak hilang kesadaran maka dapat melalui akses intravena (parenteral nutrition).

Gangguan Penyerapan Protein

Protein yang masuk berupa makro molekul, sebelum terserap terlebih dahulu akan pecah menjadi molekul-molekul kecil. Pada lambung protein menjadi polipeptida dan asam amino karena terdapat enzim pepsin. Kemudian berlanjut ke usus halus yang mana hasil pemecahan dalam lambung kemudian terpecah menjadi lebih kecil lagi dan selanjutnya adalah proses penyerapan oleh dinding usus.

Pada kondisi tertentu protein tidak dapat terserap dengan baik sehingga akan keluar bersamaan feses. Gangguan penyerapan dapat terjadi akibat diare, infeksi saluran cerna, terdapat zat anti nutrisi, infeksi pencernaan (diare, cacingan), dan muntah. Kehilangan protein secara terus menerus sehingga kebutuhan protein bagi tubuh terus menurun sampai terjadinya malnutrisi.

Infeksi Kronis Mengakibatkan Kehilangan Protein

Pada kondisi tubuh menderita sakit berlangsung lama akibat dari infeksi, maka tubuh secara spontan mengeluarkan serdadu perang (antibodi) melawan kuman penyebab. Bagi tubuh protein berfungsi membentuk kekebalan tubuh, pembentukan enzim, hormon, penyeimbangan cairan, transportasi nutrisi, dan fungsi lainnya.

Ketika si kecil mengalami infeksi kronis atau penyakit menahun, kebutuhan protein perhari semakin meningkat. Bila tubuh kekurangan protein maka dapat terjadi penyakit kwashiorkor, penyakit dan gejala lainnya. Peran protein sangat vital dalam tubuh, maka ibu harus siap memberikan sumber nutrisi dalam pangan yang tinggi protein.

Perdarahan Dapat Menghilangkan Protein Dari Tubuh

Perdarahan dapat terjadi karena faktor eksternal seperti luka dan faktor internal akibat infeksi, penyakit (leukemia, hemofilia, dan lainya), serta gangguan pembekuan darah. Adapun protein yang telah terserap dapat masuk ke sirkulasi darah melalui vena porta menuju ke hati. Sebagian protein dapat bermanfaat oleh hati sedangkan sisanya masuk ke sirkulasi darah untuk menuju ke seluruh jaringan tubuh.

Perdarahan terus menerus dapat terjadi secara aktif maupun masif dapat membahayakan tubuh. Sedangkan perdarahan aktif bersifat akut dapat meningkatkan resiko kecacacatan sampai kematian. Adapun perdarahan akibat penyakit seperti leukemia atau hemofilia akan menghilangkan protein secara terus menerus yang terdapat pada sirkulasi maupun protein pada jaringan.

Kondisi peradarahan hal penting yang ibu perlu tahu ialah segera menuju fasilitas kesehatan terdekat. Apapun penyebab perdarahan, bersifat akut maupun kronis segera temui dokter dan konsultasi penanganan serta solusi yang diperlukan untuk kesehatan si buah hati.

Gejala yang Timbul Akibat Penyakit Kwashiorkor

  • Wajah bulat dan bengkak (moon face)
  • Punggung kaki bengkak karena penumpukan cairan
  • Perut bengkak karena penumpukan cairan (asites)
  • Rambut kusam dan mudah tercabut atau patah
  • Berat badan dan tinggi badan lebih rendah dibandingkan normal
  • Pembesaran hati
  • Gangguan makan (anoreksia)
  • Perubahan status mental pada anak (rewel, cengeng, maupun apatis)
  • Sering terdapat penyakit lain (infeksi, diare, dan anemia)
  • Kulit berbintik merah meluas dan berubah menjadi hitam serta mengelupas
  • Tekanan darah, denyut jantung, pernapasan menurun
  • Pandangan anak sayu
  • Lemah, letih, lesu
  • Jaringan lemak sedikit

Penanganan dan Tatalaksana Malnutrisi Energi Protein (MEP)

Secara umum malnutrisi dapat mengakibatkan penyakit kwashiorkor pada anak, dengan memberi perhatian lebih pada kebutuhan gizi harian si kecil sehingga terhindar dari kekurangan gizi. Terdapat 3 fase dalam penanganan malnutrisi energi protein (MEP) yaitu stabilisasi, transisi, dan rehabilitasi. Penanganan MEP harus berdasarkan penanganan tenaga ahli dalam bidang kesehatan seperti dokter.

Ikuti panduan nutrisi berdasarkan formula WHO atau modifikasinya. Berikan formula WHO yang pada fase stabilisasi ialah dengan kode F75. Pada stabilisasi memerlukan waktu 1 minggu dengan tujuan penanganan dengan memberikan atau mengidentifikasi dan mengelola permasalahan yang mengancam nyawa.

Fase transisi maka berikan formula WHO F100 yang mana program rawat melanjutkan penangan pada fase stabilisasi dan peningkatan jumlah nutrisi yang masuk. Pada tahap ini harus melakukan pemantauan status fisik seperti denyut nadi, frekuensi pernapasan dan pemantauan cairan masuk keluar.

Memasuki minggu ke 2 sampai 6 masuk dalam fase rehabilitasi yang mana memberikan formula F135. Targetnya tahap ini ialah mengejar berat badan yang hilang, memperbaiki status mental, stimulasi emosional dan fisik. Dan ibu mempersiapkan diri untuk melanjutkan rawat rumah.

Pada minggu ke 7 sampai minggu 26 tenaga medis akan melakukan pantauan langsung di rumah. Kegiatan ini bertujuan mencegah malnutrisi secara berulang, memastikan perkembang fisik serta emosional menjadi lebih baik.

Perlu ibu ketahui bahwa kasus penyakit kwashiorkor pada anak merupakan akibat kekurangan protein, beberapa anak tetap mengalami kecacatan fisik serta gangguan mental seumur hidup. Pentingnya pengetahuan tetang kebutuhan nutrisi bagi seorang ibu untuk si kecil. Agar terhindar malnutrisi jangan segan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi anak. Semoga informasi ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan