Zat Besi untuk Bayi dan Anemia Defisiensi Besi

Zat Besi Untuk Bayi

Samagz.com, Ibu pintar harus tahu fakta dari zat besi untuk bayi. Zat besi merupakan salah satu kebutuhan mikronutrien dalam tubuh. Beragam fungsi zat besi untuk kehidupan, terutama bagi bayi demi menunjang tumbuh kembang yang optimal. Bayi sendiri ialah seorang individu yang baru lahir sampai berusia 12 bulan.

Sumber Besi dalam Makanan untuk Bayi 6 Bulan Pertama

Pada tahap ini bayi memerlukan sumber gizi yang berkualitas. Pada hari pertama lahir bayi wajib memberikan kolostrum dari ASI (Air Susu Ibu) pertama kali keluar setelah melahirkan. Kolostrum sendiri mengandung sel darah putih, imunoglobulin sebagai zat pembentuk kekebalan tubuh, dan nutrisi (makronutrien dan mikronutrien), serta air.

Pada usia 0-6 bulan bayi hanya memberikan ASI secara eklusif. Karena ASI dapat melindungi bayi dari infeksi pencernaan, pembentukan pertahanan tubuh, dan jumlah serta kandungan nutrisi sesuai dengan kebutuhan bayi. Terdapat berbagai macam mikronutrien dalam ASI seperti variasi vitamin B, choline, vitamin A, vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, besi, tembaga, iodin, zinc, selenium.

Kualitas ASI seorang ibu berbeda-beda, yang mana hal ini berpengaruh terhadap kandungan gizi yang ibu konsumsi selama masa laktasi. Nutrisi yang terserap oleh ibu akan tersalurkan ke bayi melalui ASI. Selama masa laktasi ibu juga harus membatasi sumber makanan yang mengandung kafein seperti kopi, teh, maupun cokelat. Kafein sendiri dapat membuat bayi jadi lebih hiperaktif dan sulit tidur.

Menu Makanan Bayi 6 Bulan sampai usia 1 Tahun

Setelah masa bayi hanya konsumsi ASI secara ekslusif, kemudian pada bulan selanjutnya selain ASI bayi juga harus mengenal dengan makanan biasa. Cara penyajian dan jumlah yang berbeda dengan makanan orang dewasa pada umumnya. Hal ini bertujuan supaya bayi dapat mencerna makanan dengan baik dan susuai kapasitas makanan yang masuk.

Pada umur 6 bulan bayi mulai makan makanan khusus bayi yang dapat ibu temui di swalayan atau pusat perbelanjaan makanan. Tetapi ibu dapat juga membuat bubur bayi sendiri di rumah dengan bahan makanan seperti sayur, buah, daging, kacang-kacangan, tahu. Bubur makanan juga memiliki kualitas nutrisi sesuai kebutuhan bayi serta aman dari bahan pengawet.

Tahap awal pemberian MPASI (makanan pendamping air susu ibu) jangan mencampur bahan makanan tersebut secara sekaligus. Awali dengan mengenali satu jenis makanan dengan olahan dalam bentuk bubur seperti bubu pisang, alpukat atau beras merah. Bahan makanan yang sudah halus kemudian mencampuri dengan ASI atau susu formula sebagai pengencer.

Semakin bertambah usia bayi, semakin banyak mengenal jenis makanan dewasa. Selain mengenal makanan bayi juga perlu mengenal berbagai macam rasa dan aroma makanan. Pada saat bayi memasuki usia 1 tahun sudah mulai jenis makanan padat yang biasa orang dewasa konsusmsi terutama makanan keluarga.

Kumpulan Makanan Yang Mengandung Zat Besi untuk Bayi

Kebutuhan zat besi (Fe) per hari pada bayi berbeda-beda. Secara teori pada usia 0-3 bulan bayi hanya memerlukan 1,7 mg per hari, usia 4-6 bulan kebutuhan per hari sebanyak 4,3 mg, dan pada usia 7-12 bulan bayi membutuhkan zat besi sebesar 7,8 mg. Adapun asupan zat besi tidak boleh kurang dari kebutuhan harian tersebut, karena dapat menyebabkan anemia defisiensi besi pada bayi. Zat besi dapat juga mengalami over dosis bila kelebihan, pada anak dosis letal zat besi ialah 200-300 mg/kg berat badan.

Zat besi tersebar banyak dapat dalam bahan pangan nabati maupun hewani. Sumber pangan hewani yang mengandung zat seperti telur, ikan, daging khususnya ampela, dan olahan daging memiliki kualitas yang baik. Selain itu sumber zat besi pada pangan nabati ialah gandum serta olahan nya, sayur kecuali kentang, kacang-kacangan, buah yang kering (buah prem, ara, aprikot), dan ekstrak ragi.

Bahan makanan yang dapat ibu berikan pada bayi ialah seperti telur, hati, daging, telur, sayuran, tahu, dan kacang-kacangan. Pastikan sebelum mengonsumsi olah bahan tersebut dengan bersih dan matang demi mencegah bayi sakit. Bayi yang berumuh 6-8 bulan berikan makan tersebut dalam bentuk masih halus atau kecil, kemudian umur 9 bulan sampai 1 tahun sudah dapat memberikan makanan setelah matang.

Kandungan zat besi pada sumber pangan hewani lebih besar dari pada nabati. Dalam setiap bahan makan dengan berat 50 gram memilki kandungan zat besi berbeda seperti hati (5 mg), olahan daging (1 mg), telur rebus (1 mg), kacang-kacangan (1 mg), sayur-sayuran (1 mg), dan gandum (1 mg). Sedangkan pada ikan (seafood, ikan tuna, ikan sarden, udang, dll) jumlah zat besi lebih tinggi sehingga pengontrolan lebih ketika memberikannya pada bayi.

Manfaat Zat Besi untuk Bayi

Zat besi memiliki 3 fungsi utama dalam tubuh yaitu sebagai senyawa besi fungsional (hemoglobin, mioglobin, enzim-enzim), besi cadangan (feritin, hemosiderin), dan besi transport (transferin). Dalam tubuh besi tidak dapat bebas (free iron) karena dapat merusak jaringan bersifat seperti radikal bebas.

Besi dalam tubuh dengan bentuk hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari luar menuju dalam tubuh dan memberikan bahan bakar untuk jaringan serta sel. Besi dalam bentuk mioglobin berperan sebagai cadangan oksigen tersimpan dalam otot. Fungsi besi bagi orang dewasa dan bayi sama namun kebutuhan pada bayi lebih besar dari pada orang dewasa. Penyebabnya ialah bayi masih dalam proses tumbuh kembang.

Pada proses pembentukan sel darah zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yang mana besi berikatan dengan protein globin. Berdasarkan WHO pada anak dengan usia kurang 6 tahun salah satu kriteria anemia bila hemoglobin kurang 11 g/dl, sedangkan Indonesia sendiri memiliki kriteria anemia ialah hemoglobin kurang dari 10 g/dl.

Anemia Defisiensi Zat Besi Pada Bayi

Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang akibat kekurangan zat besi.  Kebutuhan besi sendiri untuk mebentuk hemoglobin. ADB sendiri sering terjadi pada bayi baru lahir, anak sekolah serta ibu hamil dan menyusui. Indonesia sendiri memiliki persentase sebesar sekitar 30-40% menderita anemia defisiensi besi.

Terdapat berbagai macam penyebab tejadinya anemi defisiensi besi pada bayi seperti persedian besi dalam tubuh berkurang, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (<2500 gram), lahir dengan kembar, sumber makanan rendah zat besi, pertumbuhan cepat, dan anemia selama kehamilan, perdarahan abnormal, dan pasca pembedahan.

Pengobatan pada bayi yang mengalami anemia defisiensi besi ialah dengan pemberian preparat besi atau transfusi darah. Pengobatan ini dapat dilakukan pada tempat fasilitas kesehatan yang memiliki dokter. Pencegahan anemia defisiensi besi dengan menanggulangi penyebab bayi kekurangan zat besi dalam tubuh.

Penyebab Bayi Kekurangan Zat Besi

Defisiensi zat besi terjadi bila terjadi kekurangan asupan zat besi, kualitas zat besi kurang baik, defisiensi vitamin C, pengetahuan ibu, gangguan penyerapan, kebutuhan zat besi meningkat, kehilangan besi akibat perdarahan.

Pemilihan sumber makanan sangat berperan penting dalam mencegah kekurangan zat besi. Pilihlah zat besi dalam sumber pangan hewani karena memiliki kualitas baik serta mencukupi jumlah yang tinggi. Zat besi dalam pangan nabati sulit untuk mencerna karena tingginya serat sehingga menghambat penyerapan besi. Selain serat terdapat senyawa yang menghambat penyerapan besi ialah asam tanat dan asam fitat.

Faktor vitamin C juga berpengaruh besar dalam daya absorbi besi dalam tubuh. Zat besi sendiri terdapat dalam buah-buahan seperti jeruk, apel, dan lainnya.

Pengetahuan ibu dalam mengasuh bayi juga sangat besar perannya. Pengambilan keputusan bayi untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan sangat tepat, namun imbangi dengan nutrisi yang masuk harus tinggi dan berkualitas. Sebelum memberi susu sebagai makanan pendaping, pilihlah ASI sebagai makanan pokok yang tinggi kandungan zat besi. Kemudian bayi juga harus memberi makanan pendamping salah satunya daging terutama hati sapi atau ayam.

Bayi juga dapat mengalami sakit seperti diare akibat infeksi kuman yang berasal dari lingkungan tidak bersih atau sumber makanantidak higenis. Bayi yang dalam keadaan sakit membuat nafsu makan berkurang, serta daya serap nutrisi terutama pada zat besi berkurang sedangkan kebutuhan meningkat akibat bayi dalam masa pertumbuhan.

Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi

Kebutuhan bayi selama awal kehidupan tergantung oleh ibu atau orang tua. Kekurangan zat besi secara terus menerus sepeti penyebab diatas dapat membuat bayi menjadi anemia defisiensi besi. Pada tahap ini bayi memiliki cir-ciri atau gejala akibat kekurang besi atau anemia defisiensi besi.

Beberapa gejala anemia defisiensi besi, akibat kekurangan zat besi sebagai berikut.

  • Pucat pada bawah kelopak mata, mukosa mulut, kuku jari
  • Tidak nafsu makan
  • Kukuk berbentuk sendok (koilonikia)
  • Badan lemas, Cepat lelah, mata berkunang-kunang,
  • Permukaan lidah licin tampak mengkilap
  • Bercak keputihan pada sudut bibir (stomatitis angularis)
  • Akhloridia atau Ingin memakan benda yang tidak lazim seperti kardus, kertas, tanah, rambut
  • Infeksi parasit seperti cacingan

Semoga ibu memperhatikan begitu pentingnya zat besi untuk bayi. Ikutilah program ASI ekslusif selama 6 bulan awal kehidupan. Konsumsilah makanan yang segar dan sehat bagi ibu menyusui, karena sumber gizi bayi selama manyusu tergantung dari gizi ibu. Cegah bayi mengalami ADB dengan selalu memberikan sumber makanan yang berkualitas, sehat dan bersih. Semoga informasi ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan