Ibu Hamil Melahirkan Sendiri di Rumah Dalam Keadaan Darurat

Ibu Hamil Melahirkan Sendiri di Rumah

Perasaan bahagia bila bumil telah mendekati waktunya melahirkan, tetapi juga merasakan khawatir apabila ibu hamil melahirkan sendiri di rumah. Walaupun pada saat ini jarang terjadi, kecuali dalam keadaan darurat.

Banyak faktor yang membuat bumil harus melahirkan di rumah. Seperti faktor kekurangan biaya persalinan, tinggal sendiri, situasi medesak, jarak pusat persalinan jauh dari rumah, dan jadwal melahirkan tidak sesuai. Berikut ini kami membahas tentang langkah awal apa yang bumil lakukan.

Catatan Kehamilan

Selama kehamilan sebaiknya ibu hamil membuat catatan kehamilan yang lengkap. Catatan ini minimal berisi waktu haid pertama hari terakhir (HPHT), tafsiran waktu persalinan, dan pertumbuhan janin sesuai tinggi fundus uteri (TFU). Selain itu juga dapat melengkapi dengan menambahkan situasi riwayat kesehatan bumil.

Indonesia sendiri telah memiliki catatan kehamilan bagi ibu hamil dalam bentuk sebuah buku. Setiap bumil mendapatkan buku catatan kehamilan secara gratis setelah kontrol kehamilan pertama pada pusat pelayanan kesehatan atau bidan. Buku kehamilan ini hanya dapat bumil gunakan sekali setiap satu periode hamil.

Dalam buku berisikan informasi catatan kontrol, riwayat vaksin, HPHT, TFU, tafsiran persalinan, riwayat penyakit, jumlah janin, USG janin, dan riwayat hamil sebelumnya. Catatan penting ini berguna untuk memantau kesehatan ibu hamil dan janin. Adapun kegunaan HPHT ialah dapat memprediksikan kapan hari persalinan.

Perlu bumil ketahui bayi kurang bulan (BKB) dan berat badan lahir rendah (BBLR) beresiko mengalami bayi kuning (ikterus neonatorum), gangguan napas (asfiksia), gangguan tumbuh kembang, serta kematian. Supaya bayi lahir dengan paru yang sudah matang, maka perlu memastian usia kandungan lebih dari 35 minggu.

Jika usia bayi kurang dari 35 minggu dan harus segera lahir, pastikan bahwa bumil mengonsumsi obat perangsang perkembangan paru. Saat kondisi ini ibu hamil wajib mendapatkan pertolongan tepat dari pusat layanan kesehatan serta waktu istirahat yang cukup. Oleh karena itu catatan kehamilan sangat membantu persiapan melahirkan.

Kenali Situasi Kondisi Lingkungan

Proses melahirkan tidak dapat ibu hamil tahan, baik itu karena terpaksa atau tidak. Jadi sebelum masuk proses persalinan ibu hamil harus mengerti dan kenali dulu dengan situasi kondisi lingkungan. Persiapkan juga peralatan untuk proses persalinan sepeti ember, air hangat, handuk, dan kain.

Selain itu posisi melahirkan juga harus ibu tahu, seperti posisi tidur terlentang dengan kaki terbuka, jongkok, atau kondisi persalinan dalam air. Pratekan posisi melahirkan sesuai dengan rasa nyaman dan aman untuk bayi dan ibu. Kemudian bumil tidak panik, anggaplah proses ini normal dan dapat bumil tangani dengan baik.

Adapun ciri ibu ingin melahirkan ialah keluar darah atau cairan dari jalan lahir, kontraksi, pelebaran mulut uterus, dan ketuban pecah. Kontraksi biasanya akan bertambah sering dan kuat, seiring mendekati waktunya lahir. Dorongan kontraksi serta kekuatan mengedan ibu optimal, dapat membantu proses persalinan berjalan lancar.

Perlu bumil ketahui bahwa persalinan baru pertama kali dapat mengalami proses yang lama dari pada persalinan setelahnya. Tidak jarang bumil mendapatkan robekan jalan lahir lebih besar pada persalinan pertama. Jadi sebaiknya bumil dapat melakukan persalinan secara normal, supaya persalinan selanjutnya lebih mudah.

Panggil Bantuan dan Pusat Persalinan

Kedua aktivitas ini sebaiknya harus bumil lakukan secara bersamaan. Panggil bantuan dari orang-orang yang terdekat dari lokasi bumil. Selanjutnya minta bantuan kepada mereka untuk menghubungi pusat layanan kesehatan atau persalinan. Kemudian arahkan mereka untuk mempersiapkan peralatan persalinan.

Bumil yang ingin melahirkan juga harus tahu, bahwa bantuan tersebut sudah terlatih memimpin persalinan atau tidak. Jika bantuan dari orang biasa, maka pastikan bantuan tidak panik. Kemudian bumil dapat mengarahkan secara jelas dan singkat apa yang harus bantuan lakukan.

Bantuan pusat persalinan biasanya datang lebih lama, sedangkan proses persalinan tidak dapat menunda. Koordinasikan bahwa bantuan persalinan datang dengan membawa tim medis yang sudah terlatih menangani ibu hamil dan bayi.

Selama bantuan dalam perjalanan menuju lokasi, bumil dapat berkomunikasi dengan operator layanan persalinan. Komunikasi dengan cara online atau virtual, dapat membantu ibu hamil melahirkan secara baik. Sehingga dapat mencegah dari kematian ibu dan bayi.

Persiapan Persalinan Sendiri di Rumah

Terdapat beberapa persiapan persalinan sendiri di rumah yang harus ibu tahu. Bumil persiapkan air hangat, ember, handuk, kain atau sprei, baju bayi, gunting, benang, kasa, antiseptik, dan pengahangat bayi. Penggunaan gunting dan benang harus melalui proses steril terlebih dahulu dengan mencelupkan ke dalam alkohol atau betadine.

Selanjutnya posisikan badan terlentang dengan kaki terbuka lebar atau menggunakan posisi jongkok. Lakukan steril dengan cuci tangan menggunakan hand rub atau alkohol. Kemudian bersihkan vagina atau area jalan lahir dengan kasa atau kain yang telah tercampur dengan antiseptik, alkohol, betadine, atau air sabun.

Setalah lahir pastikan bayi menangis kencang, jika tidak maka ibu perlu merangsang dengan menupuk bagian bokong atau mengelus bagian punggung. Kemudian potong tali pusar bayi dengan gunting dengan jarak sekitar 8-15 cm dari perut. Langkah selanjutnya ikat tali pusar tersebut dengan tali.

Lakukan permbersihan pada bayi dengan handuk yang telah bercampur air hangat. Pastikan bayi dalam suhu hangat menggunakan pakaian, penghangat, atau inkubator khusus bayi.

Biasanya plasenta atau ari-ari akan keluar 15-30 menit setelah bayi lahir. Pastikan plasenta lahir secara lengkap, tanpa tersisa sedikitpun dalam rahim. Kemudian ibu dapat memulai inisiasi menyusui dini, ASI pertama mengandung tinggi kolostrum yang sangat baik untuk kebutuhan bayi.

Kontraksi Adekut dan Tanda Bayi Siap Lahir

Tanda-tanda bumil ingin melahirkan ialah keluar darah dari jalan lahir, kontraksi, pecah ketuban, dan pelebaran serviks. Kotraksi adekuat itu ialah kontraksi yang simetris, kuat atau dominan pada fundus uteri, dan terdapat fase relaksasi. Melakukan pengukuran frekuensi kontraksi ialah selama 10 menit. Adapun kontraksi normal 3-5 kali dalam 10 menit.

Selama persalinan memiliki empat fase persalinan yaitu kala I, kala II, kala III, dan kala IV. Ketiga kala ini memiliki waktu dan aktivitas yang berbeda-beda. Kala I mendeskripsikan proses penipisan, pendataran serviks sampai pembukaan lengkap (10 cm). Kemudian lanjut kala II sampai proses bayi lahir, selanjutnya kala III sampai lahir plasenta dan ketuban. Sedangkan kala IV yaitu masa nifas.

Ketahuilah bahwa pada kala I terdapat 2 fase yaitu laten dan aktif. Selama fase laten memerlukan waktu sekitar 8 jam dengan bukaan serviks sekiar 2-3 cm. Selanjutnya masuk ke fase aktif selama 8 jam yang mana pembukaan lengkap atau dilatasi sudah 10 cm. Pada tahap kala I menghabiskan waktu sekitar 16 jam waktu persalinan.

Setelah pembukaan lengkap, maka bidan atau dokter akan mulai memimpin persalinan. Pada tahap ini ibu harus banyak memiliki tenaga untuk mengejan. Proses pengaturan napas juga sangat wajib, supaya ibu dapat melahirkan secara normal. Selama proses kelahiran, tenaga medis selalu memantau tanda-tanda kehidupan janin. Pada proses ini secepat mungkin harus terselesaikan.

Secara simultan dalam 30 menit setelah bayi lahir, maka plasenta harus keluar. Lihat kontraksi jika kurang adekut maka dapat menambah obat-obatan seperti oksitosin untuk merangsang kontraksi. Proses melahirkan plasenta atau ari-ari terdapat pada tahap kala III.

Tahap kala IV ialah pada masa nifas yang berfungsi untuk resiko perdarahan setelah persalinan. Pantauan tersebut dalam bentuk mengukur tekanan darah, nadi, suhu, TFU, kontraksi uterus, BAK, dan perdarahan. Melakukan evaluasi setiap 15 menit pada jam pertama, kemudian setiap 30 menit pada jam berikutnya.

Bantuan Darurat Tim Medis

Bantuan yang telah datang dari tim medis, maka langkah dan tahap selanjutnya dapat menyerahkan pada mereka. Bila ibu telah melahirkan secara mandiri, maka perlu tim medis memeriksa keadaan bayi dan ibu. Pemeriksaan bayi dalam bentuk apgar score untuk menilai bayi terjadi asfiksia.

Kemudian tim medis dapat membantu ibu menjahit jalan lahir dan membersihkan darah persalinan. Sebaiknya jika memungkinkan biarkan pemotongan tali pusar bayi oleh tim medis. Namun bila dalam 2-5 menit tim medis belum datang, maka ibu wajib memotong nya langsung secara mandiri. Gunakan gunting steril saat memotong tali pusar.

Beberapa saat setelah memastikan bayi dan ibu sehat maka tim medis mulai melakukan vaksin awal Hepatitis pertama, Polio dan BCG. Selanjutnya dapat melakukan proses menyusui. Ibu pintar harus tahu bahwa ASI pertama kali memiliki kolostrum yang berguna untuk nutrisi dan zat proteksi bagi bayi.

Resiko Ibu Hamil Melahirkan Sendiri di Rumah

Ketahuilah bahwa 2 kali lebih besar terjadinya kematian bila melahirkan sendiri di rumah dari pada melahirkan di pusat layanan kesehatan. Selain itu resiko perdarahan sebelum dan setelah persalinan juga meningkat. Kejadian infeksi ibu dan bayi juga sangat besar terjadi.

Penanganan secara tidak baik dan program steril yang kurang menjadi penyebab hal tersebut. Oleh karena itu selalu perhatikan beberapa kondisi fisik ibu seperti lemas, badan panas, pucat, bibir kering. Segera bawakan ke pusat kesehatan agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Nah setelah mengulas betapa ribet nya ibu hamil melahirkan sendiri di rumah, sebaiknya ibu jangan pernah melahirkan bayi secara mandiri. Secepat mungkin hubungi pusat persalinan terdekat, jika telah muncul tanda-tanda ingin melahirkan. Namun apabila dalam kondisi darurat maka ibu boleh melakukan proses persalinan secara mandiri.

Tinggalkan Balasan